Rabu, 12 September 2012

SEPAK BOLA (KINI) MENJADI OLAH RAGA MAHAL


      Dahulu Banyak yang mengatakan bahwa Sepak Bola adalah olahraga paling murah setelah Olah raga ringan bernama Lari, namun tidak dengan sekarang. Karena semenjak Sepak Bola menjadi olahraga nomor satu di Indonesia bahkan dunia, bisa dibilang Sepak Bola dewasa ini menjadi salah satu olahraga yang efektif untuk bisnis. Untuk di Indonesia saja klub Sepak Bola bisa mempunyai anggaran yang terhitung besar, mereka mendapat sokongan dana dari APBD serta pihak sponsor yang berani membayar tinggi. Memang jika dibanding klub-klub eropa anggaran klub di Indonesia bukanlah apa-apa, namun jika untuk ukuran Indonesia yang terhitung sebagai negara berkembang anggaran untuk klub itu sangatlah besar. Karena untuk menggaji satu pemain saja klub-klub harus merogoh kocek sampai 0,5 milyar untuk satu pemain dalam kurun waktu satu tahun, sudah bisa kita bayangkan jika untuk 11 atau sampai 23 pemain. Saat Sepak Bola menjadi ladang bisnis, ironi terjadi di daerah perkampungan semisal di Desa Sukawijaya (kecamatan Tambelang) menggelar kompetisi hanya tiap musim panen padi saja, tentu kita tahu apa alasannya “tidak adanya lapangan” untuk menggelar kompetisi antar kampung, mereka harus menunggu sampai musim panen tiba untuk bisa bermain Sepak Bola. Sebegitu mahalkah lapangan Sepak Bola? Jawabnya iya, karena meski pemerintah daerah sedang menggalakkan renovasi lapangan didaerah-daerah namun itu hanya sebatas di kecamatan saja, sedang disekitar daerah desa? Tidak. Padahal mungkin dari perkampunganlah bakat-bakat atau bibit yang akan membawa garuda terbang tinggi dikancah Internasional, bukan seperti sekarang yang dirundung kisruh Internal Timnas maupun carut marut kepengurusan PSSI sebagai badan tertinggi Sepak Bola di Indonesia. Meski bermain Sepak Bola yang sebagai wadah olahraga favorit hanya musiman, antusiasme dari warga untuk ikut euforia sangatlah meriah. Bermain di lapangan sawah memang tidaklah mudah bahkan mungkin bagi seorang Bambang Pamungkas sekalipun, namun semua itu sirna dalam kelarutan kebersamaan antar pemain serta warga yang antusias menjadi suporter bagi tim kesayangan. Mereka tentu saja mengharap adanya bantuan dari pemerintah untuk menyediakan lapangan untuk menumpahkan hobi Olah raga favorit masyarakat dunia ini. Namun harapan hanyalah harapan karena menurut salah satu dari mereka lapangan Sepak Bola permanen adalah barang termahal untuk mereka. Sementara di Pulo Damar (desa sukamantri) tetangga dari perkampungan yang menggelar kompetisi dengan lapangan sawah itu tak jauh lebih baik dari gelaran kompetisi tersebut, karena para pemuda atau bahkan bibit muda dalam Sepak Bola sangat sulit untuk menyalurkan hobinya karena terhalang oleh langkanya Lapangan. Dulu memang sempat ada namun kini sudah ditutup dan rencana dialih fungsikan untuk menjadi TPU karena berbagai macam alasan tentunya. Saat ini di Pulo Damar sedang tergelar acara kompetisi Sepak Bola mini kategori umur 5-12 tahun dengan menggunakan lapangan yang kurang lebih berukuran kira-kira 6 x 15 M milik seorang warga. Sudah tentu kita tahu jika dengan lapangan yang berukuran seperti itupermainan Sepak Bola sangatlah tak menarik karena akan terjadi yang namanya istilah sering out gara – gara bola yang hanya ditendang sering meninggalkan area lapangan, meski demikian antusisme masyarat untuk menyaksikan hal itu tak kalah antusias menyaksikan gelaran ISL sekalipun. Antusiasme masyarakat tak pernah surut karena memang mereka memerlukan hiburan ditengah hidup yang semakin kearah sulit ini yaitu salah satunya dengan cara menyaksikan anak, sepupu, saudara, keponakan atau bahkan cucunya mengolah si kulit bundar bergerak. Menurut kabar dari salah seorang Panitia bahwa untuk Hadiah Juara pertama mereka berikan dengan hadiah yang sangat-sangatlah sederhana, yakni Trofi Bekas, uang kecil yang tekdisebutkan serta satu buah si Kulit Bundar yang terbuat dr bahan karet. Tak berimbang memang jika dilihat dan dibandingkan dengan antusiasme masyarakat dengan besaran hadiah untuk satu turnamen yang sangatlah dicintai masyarakat, namun disinilah terdapat letak pembelajaran bahwa dengan dana minim tentulah bisa membuat ajang menunjukan bakat, penyaluran hobi serta hiburan ditengah ekonomi yang semakin tak jelas jalan kearah mana. Semoga saja hal ini tidak berkepanjangan karena hal demikian ini haruslah berubah kearah lebih baik, baik dari fasilitas maupun perhatian dari lembaga terbesar bernama pemerintah, karena tidak menutup kemungkinan dari hal ini tercipta bakat-bakat besar sepak bola.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar